syair ini saya dedikasikan untuk para sahabat yang bertandang ke rumah ini…

Kepada malam, aku bertanya
Kapan dia akan datang?
Sementara langitmu sudah menggelap dan bertabur bintang
akupun melelah di ujung penantian
Dan sang malam hanya menyodorkan aku sebuah puzzle dan memintaku untuk menyelesaikannya
Aku merenung..
Kepada pagi, aku bertanya
Kapan dia datang?
Sementara kehangatan mentari mulai merambati bumi dengan bias-biasnya
wajahku yang sendu dan lelah pun hanya tinggal lukisan
Dan sang pagi memberikan aku benih dan memintaku untuk menanamnya
Aku merenung..
Kepada siang, aku bertanya
Kapan pastinya dia datang?
Sedangkan panasnya sudah membara diatas kepala
Berbaur peluh, berbaur asa yang memudar
Dan sang siang pun memberikan aku sebuah buku catatan dan memintaku untuk menyimaknya
Aku merenung..
Kepada sore pun aku masih bertanya
Mungkinkah dia datang?
Sementara hari mulai berakhir, dan sinar jingga sudah duduk manis di ujung barat
sang sore pun tersenyum lalu berkata ,” pagi, siang sore dan malam adalah waktu. Maka rapallah matera cintamu padaNya,dan selipkanlah harapanmu..”
Kemudian dia memberikan aku sebuah teka-teki kehidupan dan memintaku untuk menjawabnya
Aku merenung…
batavia, 22 juli 2010
-kampret-
Aku, akhir-akhir ini, menjadi seorang perempuan yang sangat sensitif. Aku bisa menangis, saat seharusnya aku tersenyum, atau bahkan tertawa. Aku, bisa saja marah, untuk hal-hal yang seharusnya tak perlu aku hiraukan.
Ini karena aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga, lebih dari apapun itu. Dan, kehilangan ini karena kecerobohanku sendiri.
Aku. Aku perempuan yang tidak bisa duduk dan diam.
(more…)
Langit pagi hari cukuplah mendung. Sesekali, sinar matahari mencoba mengintip dari gerombolan awan yang tak bercelah. Rupanya ia melakukannya dengan sekuat tenaga. Sekonyong-konyong gerombolan awan bergulung murung dan cemberut. Mereka benar-benar ingin menguasai hari ini sepenuhnya. Tanpa memberikan sedikit permisi kepada sang raja cahaya.

(more…)
kado dari mas andra… www.langitjiwa.wordpress.com

” Dibawah sumpah atas Nama Tuhan.Maukah kau menjadi ibu bagi anak-anakku kelak,maka
aku sematkan cincin emas dilingkar jari manismu yang terukir;namamu,namaku.
Kelak itu akan menjadi kenang.”
Di wajah senja yang memerah jingga
kita berdua menikmati secangkir teh di beranda depan rumah,
sesekali kita bertatapan tanpa ada yang mau kita katakan.
Hanya dengan bahasa kalbu kau dan aku memaknai percakapan mata kita.
Kini,wajah kita telah usang pada sisa usia yang semakin matang pada pohon kehidupan.
Helai demi helai rambut memutih,
serupa kapas pada pucuk-pucuk pohon randu.
Melihat dirimu pun aku harus sedekat mungkin.
Karena apa? Mataku sudah tak awas daya pengelihatannya,
seperti membaca peta buta dibola matamu
Rumah kecil ini menghadap pematang sawah
setiap pagi tiba,cahaya matahari menusuk jendela kamar
bersama angin pagi yang menderu-deru
untuk membersihkan sisa-sisa nafas kita
Kini rumah yang dulu ramai dan gaduh oleh tingkah anak-anak
tinggal sepi tergores pada dinding waktu.
Anak-anak telah menjalani kehidupannya masing-masing.
kita akan selalu merindukan kedatangan mereka bersama buah hatinya
Dimana pada rumah kecil ini sepi akan tercerai berai,
oleh tingkah polah cucu-cucu kita yang selalu mengemaskan.
Kini,kau dan aku,Hanya bisa tersenyum bahagia
Saat kau pinang aku dibawah sumpah atas nama Tuhan untuk menjadi istrimu
langitjiwa2010
================================================================
makasiiihh mas andraaaa ^___^
Aku punya seorang kakak, laki-laki. dan dia satu-satunya saudara kandung yang aku punya. Do you know how i adored him?
(more…)
kata siapa cinta itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang normal?
Bugel dan Romel memiliki kisahnya yang seru!!
gambar saya comot dari sini
Seharian si Bugel merenung di sebuah gubuk bambu yang berada di antara sawah-sawah. Tak seperti biasa, wajahnya yang ceria mendadak murung. Ntah apa yang mengganggu suasana hatinya. Pandangan yang nanar mengisyaratkan bahwa Bugel sedang memikirkan sesuatu yang berat!! oh, mungkin Bugel lagi mikir tentang masalah harga beras yang naik terus. Mungkin juga Bugel pusing memikirkan dunia perpolitikan di negaranya yang carut marut.
Berkali-kali Bugel menghela nafas yang panjang, lalu mengucek kedua mata dengan tangannya yang kotor.
“hiiihhh….!!!”. Keluhnya.
Ia mengusap-usap wajahnya, kemudian rambutnya dan menariknya kencang-kencang. “hiiihhh…..!!!!”.
“wadooooohh… sakeeett!!!”. teriaknya. Rupanya sangking gemesnya, Bugel menarik rambutnya terlalu kencang sehingga rambutnya tercabut beberapa helai. Meski dalam kondisi yang aneh seperti itu, Bugel ternyata masih juga merasakan rasa sakit. Menandakan bahwa ia masih dalam keadaan sadar
(more…)

Masih inget nggak sm jajanan tradisional? jajanan waktu kita masih kecil? (khususnya untuk yang kelahiran dibawah tahun 1990, biasanya minimal pernah ngerasain). Ada kue cucur, cenil,nagasari, lemet, pisang goreng, tahu brontak,lemper, kembang goyang, jadah (ato bahasa indonesia-nya gemblong), terus lepet, gatot dll. :D Ditengah-tengah mewabahnya junkfood alias makanan modern, makanan-makanan tradisional kita terus berusaha untuk eksis. makasih banget buat pada pembuat+pedagang makanan tradisional. Kalo nggak ada mereka, mungkin kita cuman kenal sm makanan-makanan ala eropa kayak burger, spagetti, lasagna dll, yang rasanyaa yaaiikkkzz!! enggak enaaakkk… nggak enak kalo dikit ahaha*Dikeplak*
(more…)

*jangan tanya apa hubungan judul dengan gambar diatas dan isi postingan saya kali ini :D *
(more…)
Judul: SCARLET (The Secret Of Charlotte Celestyn)
chapter #1 :Aurora Di Langit Eshe
Fiksi
Written by : KAMPRET
****************************************************************
“Mamaa… aku pergi dulu yaa!!”. teriakku sambil memakai sepatu dan jaket kesayangan.
“Ke bukit lagi? Cium mama dulu!!”. Jawab mama dari arah dapur.
“Ga sempat mama… nanti Auroranya nggak keliatan.. besok-besok ya ma.. aku ngutang dulu!”.
” hati-hati ya sayang… pulanglah sebelum jam makan malam! ingat, kamu banyak hutang ciuman sama mama!”.
“iya mama..! nanti aku lunasi!”.
Buru-buru aku menyambar tas ransel yang sudah disiapkan dan berlari menuju sebuah bukit kecil yang berada tak jauh dari rumah.

(more…)
Dia.
Lagi-lagi dia.
“kenapa lagi ini…”. gumamku.
Dia datang menyelinap di sela-sela tidurku yang nyenyak dan mengacaukan mimpiku yang indah. Dia.. dia mimpi buruk!! Mimpi terburuk diantara mimpi-mimpi buruk yang pernah hinggap dalam mimpiku. Mimpi buruk yang tanpa permisi mengacaukan indahnya dunia di dalam alam bawah sadarku. Dan, untuk sekian kalinya aku terbangun tengah malam dengan nafas tersengal-sengal. Tubuhku pun basah dengan keringat dingin yang berebut keluar dari pori-pori kulitku.
Aku benci ini.
Aku benci untuk mengingat segalanya. Segalanya tentang dia di masa lalu.

Mimpi terburuk dari segala macam mimpi buruk itu adalah tentang masa lalu. Masa di mana seorang lelaki pernah mengisi hari-hariku dengan pensil-pensil warnanya. Mewarnai hari-hariku semaunya, dengan pensil-pensil warna yang tidak aku suka tapi aku tak pernah mengatakannya.
(more…)